SALAM JUMPA

Hai, teman-teman....
Selamat datang di blog puisiku ya... tapi sebenarnya nggak hanya puisi, di sini kamu bisa baca juga cerpen-cerpenku. Pokoknya semua yang bernada curahan hati....Sebagian besar cerita dan puisi melukiskan perjalanan hidupku...Yach, daripada disimpan, mendingan ditulis, biar nggak lupa/hilang. Selamat membaca ya, jangan nangis loh hik hik hik.... :) Boleh di CoPas, tapi kalau untuk tujuan komersil, izin dulu ya...

26 Desember 2008

PUISI DALAM GAMBAR





12 Desember 2008

UNTUK SAHABAT

UNTUK SAHABAT 1

Segala nuansa-nuansa
biru atau bening
pada pesonamu, sahabat
hanya akan kutuliskan di kertas-kertas bisu ini
kupakukan pada dinding kesenyapanku
di sela-sela keangkuhan dan kerinduan
sekedar mengenang
pada batas ruang waktu ini aku pernah
terpikat pesonamu, sahabat
menikmatinya dan membiarkannya
berlalu begitu saja
tanpa usaha untuk menangkap dan merengkuhnya
sebab aku tahu itu tak wajar
dinding-dinding kodrat akan membuatku
terbentur dan membutku terkapar tak berdaya
…lalu kubiarkan segalanya berlalu
sebagaimana adanya
sebab dalam ruang waktu yang lain masih banyak
tanya dan cerita



UNTUK SAHABAT 2

Aku tak bisa menipu diri
Terpaut padamu, sahabat
Peristiwa bersamamu memacu harap
Menghadirkan mimpi-mimpi pesona
Alam teduh memberi kesegaran
Aku bahagia bertatap
Meski kau tanpa kata berucap
Kelembutan jiwa penuh kesetiaan
Membuatku selalu ingin
Berteduh padamu



UNTUK SAHABAT 3

Aku senang termangu di hadapanmu
Mendengarkan kau bercerita
Tentang dunia-dunia baru
Pandangmu, sahabat
Membut sukmaku terpacu
Aku melihat sorga pada taman hatimu
Dalam bayang anggunmu
Kukuburkan segala hasrat
Kupandang wajahmu selagi ada waktu
Bunga-bunga mekar di sudut bibirmu
Kugapai lagi bayangmu
Bermain seputar anganku
Kuresapi nuansa ini
Kupahatkan di atas prasasti-prasasti bisu
Sebelum perih mengganggu


PERGUMULAN 1

Aku terperangkap dalam pesona cinta
Antara kasihmu dan kasih Tuhanku
Kelugasan dan ketulusan menaburkan bunga-bunga
Kehangatan selalu mengundang datang
Bayang-bayang yang tak pernah terpegang
Mata manja menatap menerbitkan fajar
Membawa kelembutan yang selama ini tak kukenal
Sedang Tuhan selama ini
Adalah pegangan yang tak pernah membosankan
Selalu dibuka batinku pada pesona-pesona baru
Ke arah Dialah tapak kaki menuju
Kekaguman jiwa menampar muka
Bagai di tengah jembatan tua
Dengan batang-batang rapuh yang dibentangkan
Bersarang padaku seribu kebimbangan
Terperangkap dalam pesona cinta
Kasih dan kelembutanmu, sahabat
Kubiarkan bersaing dengan Tuhan dalam diriku



PERGUMULAN 2

Haruskah keluguanmu
Mengancam langkah panggilan
Tuhan tahu ke mana langkah hidup terbawa
Agar tertanam hati perwira
Kunikmati habis keindahan bunga-bunga pesona
Aku berdiri pada dunia
Termangu – terlena



PENDERITAAN

Aku bersembunyi dalam ketakutan
Bayang-bayang hitam melayang
Sepanjang jalanku
Yamadipati mengancam hidupku
Dan waktu tak pernah kompromi
Pada derita tubuhku

Luka-luka menganga
Luka-luka berdarah
Tak pernah ada yang tahu pasti
Sanggupkah aku bertahan
Dalam kerapuhan ragaku ?

Bila derita makin menyiksa
Kadang aku bertanya
:nasibkah ini ?
cuma air mata kawanku meniti malam
beserta doa-doa sepi dalam nyeri…



HARUSKAN KUMATI ?
Haruskah aku mati
Sedang diri belum juga bersih
Teramat banyak noda-noda
Pelanggaran sepanjang hidupku

Haruskah aku mati
Tanpa harapan
Tanpa keberanian melawan maut
Sedang Tuhan tak pernah meninggalkan
walau sering aku meninggalkan-Nya



KENANGAN TERAKHIR

Kala kau gesek dawai-dawai biolaku
Suaranya melengking merobek malam
Seperti hatiku yang menjerit
Waktu kau putuskan
Akan kau tempuh jalan ini seorang diri

Aku luruh tak berdaya
Di bawah lecutan panjangnya rambutmu
Kugigit bibirku
Barangkali dengan ini
dapat kutekan kekecewaan
yang tiba-tiba menyodok dadaku

Namun sebelum kau berlalu
Meninggalkanku tuk selamanya
Sempat kugamit bayangmu
Dan kuabadikan di ruang hatiku paling dalam
Bersama setumpuk kenangan
Yang pernah kita ciptakan bersama
Dan sebelum kita benar-benar
Terentang jarak yang tak mungkin kita satukan lagi
Nyanyikan “Auk Lan Sing” dengan biolamu
Agar suaranya tetap bergaung di relung jiwaku.



GETIR

Sesaat setelah aku mengenangmu
Hatiku melenting pilu
Satu yang kurasa
: getir
manakala gelap telah membias
dan kau lepas genggamanmu
ada rasa yang menusuk rongga dada
: getir
lalu kau pun pergi begitu saja
tak peduli kegetaran
yang tengah kunikmati
kau tak pernah menoleh lagi
untuk sekedar melihat telaga di mataku
kau tak pernah menoleh lagi
untuk sekedar melambaikan tangan
kau bahkan tak pernah peduli
bila kau masih mengharapmu kembali
kugigit bibirku terasa getir
cerita cinta itu telah berakhir dengan
sebuah pengkhianatan



YANG KUTAHU

Yang kutahu aku selalu menyayangimu
Bagaimana beratnya kenyataan kuhadapi
Aku tetap menyayangimu
Tanpa batas
Segala cerita-cerita romantis
Segala lagu rindu
Segala puisi cinta
Telah kupersembahkan padamu

Yang kutahu aku tak pernah mengabaikanmu
Sesibuk apapun aku selalu sempat
Mengenang wajahmu
Mengeja pesan dari manik matamu
Mengukir kenangan bersama

Tapi yang tak kutahu
Begitu cepatnya kau tinggalkanku
Tanpa pernah memperhitungkan
Perasaanku



BILA SENJA TELAH LURUH

Bila senja telah luruh
Bersama kepak merpati luka
Dan desau angin berdesah ranggas
Biarkan aku pergi
Menggaris langit yang tak biru lagi
Menapak di jalan penuh kerikil
Mengiring daun-daun kering berguguran
Karena,
Altar porselin cinta kita telah
Menjadi pecahan beling
Yang menggores jantung



KARENAMU

Bagaimana akan kukuasai
Segenap perasaan yang bergemuruh
Rindu pada kecerahan esok pagi
Telah berhamburan di sepanjang jalanku
Mimpi sebuah istana bahagia
Telah roboh sebelum sempat kubangun
Segalanya adalah karnamu jua…



CINTA

Cinta datang dan pergi
Laksana angin topan
Tiba-tiba
Memporakporandakan
Setelah sesaat
Melambungkan
Ke atas mega-mega
Dan ketika ia berlalu
Yang tersisa cuma
Puing-puing



BUKANKAH….

Dalam waktu sepi aku berpikir
Bukankah sepotong kasih yang kudamba
Tak ubah seperti rajawali di langit
Membubung tinggi dan lenyap di balik awan
Bukankah harapan ini
Pupus juga suatu saat nanti
Sedang segenap kerinduan
Telah kupertaruhkan…



RINDU TERBUANG

Telah tercampakkan bunga putih
Yang kuberikan padamu tadi pagi

Bunga putih berkelopak putih
Adalah rinduku yang lugu
Berharap kau sambut
Dengan segala rasa bahagia
Namun masihkah asa kupertahankan
Sedang bunga putih
Telah berhamburan kelopaknya
Tersebar sepanjang jalan
Yang kemarin kita lewati berdua

Bunga putih yang tak lagi putih
Adalah rinduku yang terbuang…



LUKA

Malam telah luruh
bersama kepak kelelawar letih
dalam tikaman dingin
dalam cengkeraman gelap
dan siksaan sepi
tengah kebisuan dan waktu yang mencekam
aku terkapar
terbelenggu kejenuhan
segalanya hampa
tiada nada
tiada suara
tiada siapa siapa
tiada apa pun jua
cuma aku sendiri
termangu dalam kebodohan
lalu tanpa sengaja tersingkap kenanganmu
ada segarit luka yang belum sembuh
kembali terasa perih



LUKISAN BANGAU

Bangau yang terluka itu adalah aku
Darah yang mengucur adalah
semangatku yang berjatuhan
sayap yang patah itu adalah asaku
mata yang berarir adalah kepedihanku
desah nafas berat adalah keluh dukaku
suara yang parau adalah tangisku tertahan
kaki yang gontai adalah
langkahku yang tak berdaya
dan nuansa-nuansa kelabu adalah
gurat rindu dan mimpiku yang absurd

Pada langit yang berawan
Pada badai yang membayang
Tertinggal sepotong doa sepi
: Semoga langit lekas membiru
diserta rona bianglala



BILAKAH

Bilakah angan yang sedang kubangun ini
Takkan terlanda badai
Bilakah rindu yang tengah kususun
Takkan terentang jarak
Bilakah kasih sayang yang kudamba
Takkan terbentur dinding-dinding tradisi
Bilakah pengkhianatan masa lalu
Takkan terulang kembali
Bilakah seorang terkasih
Dapat gantikan sosok-sosok maya
Yang masih tersisa di benakku
Bilakah keping-keping hati yang tengah kutata
Takkan terbuyarkan kepalsuan
Bilakah bahagia yang kunanti
Singgah juga di sini
Dan bilakah istana impian itu
Akan terwujud jua ?



DINDING

Dulu aku pernah di situ
Memaku aliran rasa bersamamu
Mengukir kenangan pada bingkai bingkai kaca
Dan menggantungnya pada sudut-sudut
Ruang cinta kita yang wangi

Dulu aku pernah di situ
Tak pernah lelah memandangimu
Pada madu di senyummu
Dan mentari di matamu

Namun kini
Telah tergantung potret lain
Yang menyenyumi kebodohanku



SENJA

Lembayung tergores kelam
Menjelajah anganku pilu
Getar kasihmu bagai badai
Meninggalkan mimpi
Tanpa harapan

29 November 2008

PELARIAN

PELARIAN

Kuputuskan untuk berlari
Menghindarimu sejauh mungkin
Tak kan kukantongi senyummu
Atau kusimpan dalam diaryku
Aku akan berlari tanpa kata-kata
Tanpa kenangan atau kerinduan
Aku telah menguburnya semalam
Dalam gurat-gurat pergumulanku
Air mataku telah mengakhiri segala hasrat
Sekarang
Yang kutahu aku bukan milik siapa-siapa
Dan tak kubiarkan seseorang
Benar-benar memilikiku
Sebab aku kuatir ada luka lagi
Pada hati penuh luka
Aku kuatir tak lagi mampu
Bedakan rindu dan kebencian
Apa kasih dan kekecewaan
Pada batas akhir langkah satu saja kuharap
Barangkali masih bisa kupungut
Sebuah senyum yang tercecer…



BATU KARANG DAN PULAU

Aku adalah sebuah batu karang
Aku adalah sebuah pulau

Aku telah mendirikan tembok-tembok
Sebuah benteng yang kokoh dan kuat
Hingga tak seorang pun dapat menembus
Aku tak membutuhkan persahabatan
Persahabatan melahirkan kepedihan
Aku muak dengan tawa dan gelaknya

Aku adalah sebuah batu karang
Aku adalah sebuah pulau
Jangan bicara tentang cinta kasih
Aku sudah sering mendengarnya dulu
Sudah terkubur dalam benakku
Aku tak mau mengganggu perasaanku yang telah mati
Seandainya aku tak pernah mengasihi
Aku tidak akan pernah menangis

Aku adalah sebuah batu karang
Aku adalah sebuah pulau
Aku punya banyak buku dan puisi-puisi
Yang siap menemaniku
Aku terlindung
Tersembunyi dalam kamar
Aman dalam kesendirianku
Aku tak menyentuh siapa pun
Dan tak seorangpun menyentuhku

Aku adalah sebuah batu karang
Aku adalah sebuah pulau
Sebuah batu karang tidak pernah merasa sakit
Dan sebuah pulau tidak pernah menangis



BUNGA BUNGA KAMBOJA

Kudesahkan untaian sepi
Pada waktu yang makin panas
Terlalu lugas rerajut rinduku membaur
Kutatap gumpalan awan berarak
Menyumbat hasrat diri yang pernah kuat
Pergantian musim kembali menggores luka
Akankah kau hadir bila sukmaku memecah
Mungkin akan kulagukan sayonara
Bagi keakraban kita
Kulihat telah berguguran bunga-bunga kamboja
Untuk apa kemarin kita bergandengan tangan
Kalau akhirnya
Kita tega saling menenggelamkan











PERPISAHAN I

Berakhir sudah bayangmu
Panorama senja pelabuhan kita
tinggal nostalgia
Tak perlu kita tangisi air mata beku
Karna pada awalnya
Bumi yang menumbuhkan
Lalu bumi pula yang merampas
Suasana kembali wajar dan prasaja
Netral sudah pesonamu
menggores sejarah diri
Pengembaraan kita sudah berakhir
Dalam pelabuhan kesederhanaan



PERPISAHAN II

Kalau kau yang kukenang mudah memalingkan
Karna telah datang bintang yang lebih indah
Baiklah aku berangkat saja darimu
Tempat aku berpijak selama ini
Hanya membakar cemburuku terus menerus
Lantaran aku tak pernah mengerti
Bagaimana harus membahagiakanmu

Maka kalau aku terdiam
Bukan lantaran tak ada lagi ikatan batin kita
Tapi karena aku ingin menjadi kecil di hatimu
Dan biar ia yang kau kagumi menjadi besar

Baiklah kalau bungaku yang kemarin
Kau campakkan juga
Karna tak pernah berarti bagimu
Akan kulepas pandangku pada sebuah titik lain
Yang bisa memberiku harapan
Dan tak usah kau heran bila esok
Kulagukan duniaku yang lain…

KESENDIRIAN

Berkali sudah kubenturkan hasratku
Pada dinding-dinding kodrat di sekelilingku
Yang mengantarai jarak kita
Dan kuluruhkan segala kerinduan
Agar kunikmati kedamaian hati
Dalam kesendirian
Tanpa bayangmu
Tanpa senyummu
Hanya dengan puisi-puisi
Dan syair-syairku
Bukankah itu sudah cukup ?


CATATAN HARI ULANG TAHUN

Pagi ini aku buru-buru membuka hari
Tak sempat lagi kukunyah
Mimpi-mimpi seputar tidurku semalam
Aku tak sabar ingin menyapamu
“Selamat pagi, Selamat ulang tahun”
sebentar kita bercanda
membuyarkan embun pagi
sebelum sinar matahari hangatkan bumi
ada yang hendak kukatakan
bahwa mentari masih setia menemani bumi
bahwa aku masih berlayar di belakangmu…



KEBIMBANGAN

Masih tersisa segurat kebimbangan
Menggantung di langit
Saat surya menampakkan diri
:tentang sebuah rindu
impian yang abstrak
baur dalam kabut pekat
tak nampak jalan di depan
apakah akan tertinggal segumpal kebahagiaan
bila cinta harus dipertaruhkan
apakah akan ada tawa
bila kusunting rembulan
aku masih bergelut dengan kebimbangan
ketika mentari lindap di ufuk barat
makin terjerumus dalam rawa kebimbangan
waktu bintang-bintang mengawal malam
esok pun kujelang bersama
kebimbangan



CATATAN 1 JULI

Aku berlari mengejar pagi
Tapi aku diburu kepekatan malam
Ingin kugapai wajah-wajah mentari
Kurengkuh cahaya hidup terang

Sesungguhnya aku merindukanmu
Namun aku terlalu takut
Sekedar menyapamu
Atau gamit jemarimu

Sempatkah suatu saat nanti
Kita duduk bersama dalam satu rakit
Mendayung, menepis keputusasaan
Mendayung, melawan ketakutan
Mendayung, mencari hari-hari ceria kita
Sampai akhirnya kita
Tiba pada daratan
Pada pondok kasih yang kita dambakan



KUBIARKAN

Kubiarkan bayangmu bermain
Di seputar anganku
Senyummu berhamburan
Ketika gerimis menyapa bisu
Kuresapi nuansa ini
Meski dingin masih terasa
Dan tubuh menggigil
Karna luka belum juga sembuh

Kubiarkan bayangmu menggamitku
Membawaku pada sebuah perjalanan
Mengukir kebersamaan
Sebelum warna jingga
Berganti dengan gelap
Sebelum lampu-lampu jalanan
Berkata: Selamat Malam…


LUKA

Aku berdiri di atas kekuatan luka
Menantang langit kalau aku
Masih sanggup bertahan tanpa siapa-siapa
Masih mampu membendung segala duka
Sebab Tuhan masih menjadi
Satu-satunya pegangan
Bila perih makin mengganggu


BERLINDUNG DALAM PELUKAN TUHAN

Berlindung dalam pelukan Tuhan
Meredam duka dan penderitaan
Lepas dari bayang-bayang ketakutan
Meneduhkan diri di atas pangkuan-Nya
Menarik kesimpulan bening
:kesejukan hati

Bapa,
Dalam kegelisahanku
Kutemukan damai pada cahaya kasih-Mu



BIARKAN

Aku hanya bisa diam
Mematung
Membisu
Menenggelamkan segala tawa
Mengubur semua suka cita
Pada palung paling dalam

Biarkan langit tak biru lagi
Biarkan surya tenggelam sebelum waktunya
Biarkan badai bergemuruh
Biarkan halilintar bersabung
Biarkan daun-daun berguguran
Biarkan bingkai-bingkai kaca berkepingan
Biarkan!
Biarkan kuresapi nuansa nuansa kelabu
Dalam angin puting beliung
Dalam api yang berkobar
Biarkan!
Sebab aku telah kehilangan air bening
Yang kemarin baru kuminum


SOLITUDE

Hanya ada satu sarang
Dimana aku kembali pulang
Untuk mengadu
Bernama penderitaan
Segala aliran luka
Bermuara di sana
Tangisku terpelanting di batu-batu

Pada suatu ketika
Dimana orang-orang membuat patung
Memelihara ikan arwana
Menyembunyikan hatinya di balik jas
Di antara bau parfum
Dan mengikat nasib pada dasi di leher

Hanya ada satu sarang
Dimana aku selalu pulang
Bernama penderitaan



TAK KAN PERNAH ADA

Tak kan pernah ada
Seorang yang akan mengerti aku
Kesedihanku
Kesepianku
Kerapuhanku
Kelemahan tubuhku
Tak kan, tak kan pernah ada!
Aku masih harus berjalan sendiri
Mengurai duka sendiri
Mengobati segala luka sendiri
Mengemas tangis dan tawa untuk sendiri
Tak ada teman untuk berbagi
Tak kan, tak kan pernah ada!
Biar kukubur dalam-dalam
Segala kerinduan dan harapan
Kutenggelamkan angan dan impian
Sesungguhnya tak pernah ada istana bahagia
Dan jalan gersang tak berujung ini
Mesti kutempuh sendiri

24 November 2008

SELAMAT NATAL, LEONI...

Leoni,

Selamat Natal.

Kubawa rangkaian bunga putih dan kuletakkan di atas batu nisan yang terbuat dari marmer hitam. Aku membaca sebuah puisi yang dulu pernah kutuliskan untuknya.


Saat engkau takut

Merasa kecil dan tidak berarti

Merasa kesepian dan terasing

Saat tak seorang teman pun yang dapat kau temui

Aku ada di dekatmu

Saat air matamu jatuh

Aku akan menghapusnya

Saat engkau terpuruk di jalanan

Saat kau merasa malam begitu berat mengungkungmu

Dan kepedihan mengelilingimu

Aku akan menemanimu

Menenangkan perasaanmu

Barlayarlah, gadis kecilku…

Berlayarlah sekarang…

Bila kau butuh seorang teman

Aku berlayar tepat di belakangmu…

Aku memeluk sebentar pesirahannya. Walaupun aku tahu ia sekarang sudah berada di sorga, dalam pangkuan Bapa, tapi aku ingin merasakan kehadirannya walau cuma sesaat. Tunggu aku ya, bisikku. Bila tugasku di bumi sudah selesai, aku pasti pulang menjumpaimu, bisikku lagi.

Leoni,

Kalau boleh, aku ingin minta izin kepadamu. Belum lama ini aku berkenalan dengan seorang gadis. Ia mirip denganmu. Lembut, sabar, penuh pengertian, sederhana dan selalu memperhatikanku. Ia benar-benar mengingatkanku padamu. Rambutnya yang panjang, wajahnya yang penuh kasih dan selalu dihiasi senyum. Ia mungil sepertimu, Leoni. Ia selalu memberiku pelayanan yang baik bila aku berkunjung ke rumahnya. Akh, seperti kamu dulu ketika aku datang ke rumahmu. Kamu segera membuatkanku air jeruk kesukaanku.

Pertama aku mengenalnya aku tidak begitu tertarik. Memang sejak kamu meninggal aku tidak ingin menggantikan posisimu dalam hidupku. Aku tak ingin menggesermu dari tahta hatiku. Itu sebabnya aku berusaha untuk menjauhi setiap gadis. Bahkan Ning yang selama ini dekat denganku, kujauhi juga. Aku selalu berdalih bila ia ingin mendekatiku, walaupun itu sekedar untuk makan malam saja. Kamu tahu, Leoni. Sejak saat itu teman-temanku menjulukiku dengan sebutan “cool man,” laki-laki dingin, kampungan dan masih banyak lagi. Tapi aku tidak perduli. Kamu tahu apa sebabnya? Aku selalu teringat kata-katamu sebelum kamu meninggal, bahwa kita akan berkumpul di sorga dalam sebuah keluarga. Sampai suatu ketika pikiranku terbuka, ketika kami sedang belajar Dogmatika tentang sorga dan kehidupan sesudah mati. Rupanya aku keliru kalau menganggap kita bisa menjadi sebuah keluarga seperti di dunia ini. Di sorga kita hidup seperti malaikat, tidak menikah. Jadi tidak ada suami istri di sorga. Aku baru menyadari bila keluarga yang kamu maksud adalah keluarga besar Bapa di sorga. Keluarga kerajaan Allah yang kekal dan penuh kasih.

Leoni,

Suatu siang aku sedang membaca buku di ruang referensi. Aku sedang mencari bahan-bahan untuk melengkapi skripsiku. Tiba-tiba seorang gadis memintaku mencarikan sebuah buku. Setelah mencari begitu lama di rak-rak buku dan tidak menemukannya, kami berniat mencari di tumpukan buku-buku yang baru dibaca dan siap dirapikan. Tapi kami juga tidak menemukannya.

“Tidak mungkin buku itu dipinjam,” gerutu gadis itu.

“Coba cari di katalog buku, siapa tahu memang judul itu tidak ada,” kataku menyarankan.

“Sudah, kok. Buku itu ada dalam daftar.”

“Mungkin dipinjam.”

“Ah, Kakak ini bagaimana, sih. Buku di ruang referensi ‘kan nggak boleh dipinjam.”

“Oh, iya. Kenapa bisa lupa, ya? Padahal aku sudah hampir empat tahun kuliah di sini,” kataku menyalahkan diri sendiri.

Aku kembali ke tempat dudukku dan berniat melanjutkan membaca. Kuangkat buku yang lumayan tebal itu dalam posisi berdiri. Gadis itu duduk di depanku.

“Kakak ini bagaimana, sih. Itu bukunya yang dari tadi kita cari,” tiba-tiba gadis itu berseru tertahan. Ia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, karena di perpustakaan dilarang keras bersuara keras.

“Mana?” tanyaku singkat.

“Itu.” Gadis itu menunjuk buku yang tengah kubaca.

“Theological Dictionary On The New Testament Volume II. Ya, Tuhan. Kenapa aku jadi pikun hari ini,” gerutuku lirih.

Kami berdua tertawa sambil menutup mulut dengan telapak tangan supaya tidak terdengar keluar. Akhirnya kami pun berkenalan. Aku begitu picik sampai tidak mengenal adik-adik kelasku. Aku tersentak ketika menatap wajahnya lekat-lekat. Dia persis kamu, Leoni. Persis! Aku ingat sewaktu ia tersenyum benar-benar membuat dadaku berdesir. Itu senyummu, Leoni.

Akh, mana mungkin. Kita ‘kan tidak percaya reinkarnasi. Mana mungkin kamu hidup lagi ke dunia dalam wujud orang lain. Tidak. Alkitab tidak mengatakan hal itu. Dan kita hanya percaya pada Firman Allah dalam Alkitab kita. Tapi…Dia sungguh-sungguh mirip denganmu, Leoni. Gaya rambutnya, bibirnya yang mungil, alisnya yang tebal, bola matanya yang bening dan caranya berjalan tidak ada bedanya denganmu.

Tidak terasa sudah tiga bulan berlalu sejak perkenalan kami di perpustakaan itu. Kami semakin dekat. Kami mulai berbagi cerita. Dia sepertimu, Leoni. Selalu merasa kesepian dalam rumahnya yang mewah dan keluarganya yang berkelimpahan. Aku ingin membuatnya bahagia, seperti dulu aku selalu membuatmu tertawa dalam setiap kebersamaan kita. Aku ingin menyayanginya, Leoni. Aku ingin mencoba menggantikan posisimu dalam hidupku membiarkannya bertahta di ruang hatiku. Menjadikannya bagian dari diriku. Tapi bukan berarti aku akan melupakanmu begitu saja. Kamu masih tersimpan di sini, di dadaku. Dan kenangan-kenanganmu masih kusimpan di benakku.

Leoni,

Hari ini aku ingin mohon diri darimu. Aku ingin menyuntingnya menjadi kekasihku, boleh ‘kan? Kamu pasti setuju. Dia baik dan kuharap memang dia akan tetap baik. Kamu pasti tidak menghendaki aku tinggal sendiri dan bercinta dengan bayang-bayangmu. Kamu pasti tidak menghendaki aku kesepian dengan menghabiskan sisa hidupku seorang diri, tanpa seorang pendamping hidup.

Aku ingin memberikan segenap kasih sayangku padanya. Dia akan menjadi yang kedua, sesudah Tuhan, yang menjadi prioritas hidupku. Cerita-cerita cintaku, syair-syair dan puisi-puisi cintaku sekarang akan menjadi miliknya. Juga puisi yang tadi kubacakan untukmu, sekarang akan menjadi miliknya. Hari ini aku mohon diri darimu. Selamat tinggal, Leoni. Sampai jumpa di sorga nanti.

Sekali lagi kuucapkan, Selamat Natal,

Leoni….

Kuseka keringat yang membasahi dahiku dengan sapu tangan. Aku beranjak dari pusara Leoni dan bergegas meninggalkan tanah pemakaman itu. Sempat kulihat sekilas beberapa orang yang tengah berziarah memperhatikanku. Aku tidak perduli. Aku segera memacu motorku menuju ke Ungaran. Aku ingin merayakan Natal bersama teman-teman di Bukit Doa Getsemani. Aku ingin merayakan Natal bersama ‘Leoniku’ yang baru. Membuat pohon Natal dan menghiasinya dengan bila-bola plastik. Menyalakan lilin dan menyanyikan kidung-kidung Natal Silent Night, Holy Night,The First Noel atau Twinkle-Twinkle. Aku tersenyum sendiri. Ada satu yang ketinggalan, membunyikan lonceng-lonceng kecil dari perak. Aku merogoh saku jaketku dengan tangan kiri. Kukeluarkan sepasang lonceng kecil dari perak.

“Aku masih menyimpannya, Leoni,” gumamku. Lonceng itu pemberiannya, ketika aku masih bersamanya. Dan aku selalu membunyikannya berdua di dekat pohon Natal pada setiap malam Natal.

“Sekarang aku akan membunyikan lonceng ini bersama penggantimu,” bisikku lagi. Sepanjang jalan Semarang-Ungaran kudengar lagu “Joy to The World” di telingaku. Gembiralah dunia. Gembiralah hatiku. Harapan baru telah datang bersama damai Natal tahun ini. Tunggu aku Elisabet, aku segera datang untukmu….

Ungaran, Desember 2000

22 November 2008

CATATAN OKTOBER 1996

CHAOS

Derai gerimis tirai pagi

Nyata, cuma bersambut umpat maki

Sialan

Sialan, lagi katanya

Namun langit malah membantahnya sengit

Glegar! Glegar!

Dan gerutu jadi lalap segar

Lauk yang beruntun keluar bersama maki

Sumpah serapah, keluh kesah

Adalah satu-satunya senjata yang dia punya

Lepas itu!

Surya pagi juga enggan tersenyum

Tak mau tahu, kata sahabat di sana

Dan akhirnya

Yang marah lelah juga

Tertidur dipeluk angin

Besok begini juga ?


FRAGMENT

Hanya satu babak

Pun tak terselesaikan

Teramat singkat

Dua setengah waktu

Dan telah rampung

Uh, ini hanya fragment

Pun tak cukup menarik

Uh, rindumu bak mainan

Bosan

Kau buang di tong sampah

Rindumu bak fragment

Tak dapat kunikmati

Hingga ke akhir waktu


ADEGAN TERAKHIR

Haruskah kupenggal cerita lama

Yang belum tuntas terurai mata

Tidak!

Aku bukan kamu

Tidak!

Aku bukan bunglon

Belum pantas mengakhiri cerita

…lalu kubiarkan

menggelinding pada kekuatan luka

sebagai awal kebahagiaan

di luar dunia

:mati

aku takut bertatap mata

meski kau sudah menginjak

adegan akhir suatu episode


PINTU 1

Dingin

Rapat terkunci pada ruang

Berkali angin mengusik

Bisu berlalu dari jendela

Akan sapa siapa setelahnya

Impian pemetik kembang ?

Senyap

Dan mentari lindap

Yang menyisa pada rumpun ilalang

Lama

Sesudah warna pun tak rupa

Tanda jadi keranda

Sendiri di kebisuan tak bernama

Obati kesabaran

Pun lara

Hanyut jua

Oleh cinta lain makna


ILUSI

Adakah hatimu memanggilku

Ketika gerimis melumerkan kenangan

Dan bayang-bayang kasihmu berkelebatan

Atau segalanya cuma ilusi

Yang cepat berlalu

Dipermainkan harapan

Dan berlalu

Menghayati kesendirian

Adakah kau dengar panggilanku ?


PINTU 2

Kemarin aku menunggumu di pintu ini

Hari ini lewat pintu itu aku menunggumu

Esok kau menungguku di mana?

Sebab pintuku telah tertutup

Andai tiba-tiba ada bisik mengusik tidurmu

Tentu bukan aku yang mengirimnya

Karena hujan telah membuatku

Beku dan bisu untukmu